Finding My Spark Again: The Joy of Flaneuring
Dulu waktu kecil, aku sering banget berandai-andai ingin cepat menjadi orang dewasa.
Menurutku, menjadi dewasa itu keren.
Aku membayangkan diriku sebagai wanita karier, punya uang sendiri, bisa membeli apa yang aku mau, pergi ke mana pun aku suka, dan bebas melakukan apa pun yang kuinginkan.
Pokoknya, adulting sounded fun.
Ternyata...
Nggak sesederhana itu, bestie. 😂
Setelah benar-benar dewasa, aku baru sadar kalau menjadi orang dewasa ternyata datang sepaket dengan berbagai tuntutan. Ada ekspektasi yang harus dipenuhi, timeline hidup yang ternyata nggak selalu berjalan sesuai rencana, kekecewaan, hari-hari yang dipenuhi kerja keras dan stres, sampai satu fase yang menurutku paling challenging:
kehilangan spark dalam hidup.
Dan jujur saja, kehilangan spark ini adalah salah satu fase paling melelahkan yang pernah aku alami sebagai orang dewasa.
Ketika Hidup Terasa Begitu-Begitu Saja
Sejak kecil, aku hidup dengan banyak sekali impian.
Aku punya banyak target yang ingin dicapai dan timeline hidup yang ingin kuikuti. Bahkan aku sering membuat rencana untuk satu tahun ke depan, tiga tahun ke depan, bahkan lima tahun ke depan.
Semuanya harus jelas.
Harus terstruktur.
Harus tahu mau ke mana.
Khas Capricorn banget, hehe.
Tapi semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa hidup ternyata nggak pernah benar-benar mengikuti spreadsheet yang sudah kita buat.
Ada banyak hal yang terjadi di luar rencana.
Ada kegagalan.
Ada keputusan yang ternyata salah.
Ada harapan yang tidak terwujud.
Ada sesuatu yang sudah direncanakan matang-matang, tetapi akhirnya harus direlakan.
Dulu, aku bisa sangat stres ketika rencanaku gagal. Aku benci sekali ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Tapi seiring bertambahnya usia, aku mulai terbiasa dengan kegagalan.
Bukan berarti aku jadi suka gagal, ya. 😂
Aku hanya mulai belajar bahwa kegagalan memang bagian dari hidup. Aku belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dikontrol, dan tidak semua rencana harus berakhir sesuai dengan yang kita inginkan.
Mental mungkin jadi lebih kuat.
Tapi ternyata ada efek sampingnya.
Aku mulai kehilangan excitement.
Hari-hari terasa monoton.
Kerja. Pulang. Kerja. Pulang.
Begitu terus.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar membuatku excited untuk menjalani hari.
Bahkan menulis blog pun kadang terasa seperti sebuah kewajiban.
Padahal kalau mengingat beberapa tahun lalu, aku bisa sangat effort menyiapkan konten untuk blog ini. Memikirkan topik, mengambil foto, menyusun tulisan, mengedit semuanya sampai rasanya puas.
Sekarang?
Mau buka laptop saja kadang sudah, "Nanti dulu deh." 😂
Dan aku pikir, mungkin memang sedang ada sesuatu yang hilang.
My spark.
Sampai Akhirnya Aku Menemukan Spark Itu Lagi
Beberapa waktu terakhir, aku mulai menemukan kembali sesuatu yang membuatku excited.
Dan lucunya...
Ternyata hal itu sederhana banget.
Aku menemukan kesenangan dari berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil di sebuah kota.
Iya.
Cuma jalan kaki.
Menyusuri perkampungan.
Melihat bangunan-bangunan lama.
Menemukan warung kecil.
Melihat aktivitas warga.
Memotret sesuatu yang menurutku unik.
Kadang berhenti untuk minum kopi.
Lalu lanjut berjalan lagi tanpa terburu-buru.
Sesederhana itu.
Tapi entah kenapa, aku merasa bahagia.
Mungkin Karena Aku Memang Introvert Banget
Aku tuh introvert mentok.
Dari kecil, aku sebenarnya nggak terlalu suka diajak rekreasi.
Bukan karena aku nggak suka jalan-jalan.
Aku cuma nggak suka proses rekreasinya. 😂
Harus siap-siap.
Harus packing.
Harus menunggu orang lain.
Naik bus bersama banyak orang.
Suasananya ramai.
Mengikuti itinerary yang sudah ditentukan.
Harus pindah ke tempat berikutnya sesuai jadwal.
Kadang baru saja mulai menikmati suasana, sudah harus pergi karena rombongan harus melanjutkan perjalanan.
Capek.
Buatku, rekreasi seperti itu bukannya menjernihkan pikiran, malah bikin kepala semakin penuh.
Tapi ketika dewasa, aku akhirnya menemukan versi travelling yang ternyata cocok banget denganku.
Travelling sendirian atau bersama kelompok kecil.
Dua sampai empat orang sudah cukup.
Nggak perlu terlalu ramai.
Nggak perlu terburu-buru.
Nggak perlu mengikuti jadwal orang lain.
Aku bisa membuat itinerary sendiri.
Aku bisa menentukan mau ke mana.
Aku bisa tiba-tiba mengubah rencana.
Kalau menemukan tempat menarik, aku bisa berhenti.
Kalau capek, aku bisa duduk.
Kalau ingin jalan kaki lebih jauh, ya tinggal jalan.
Dan yang paling kusukai...
Aku bisa menikmati suasana kota dengan lebih mindful.
Aku bisa benar-benar memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat kalau aku sedang terburu-buru.
Aku merasa bebas.
Dan anehnya, aku bisa merasakan sunyi di tengah keramaian.
Menurutku itu salah satu perasaan paling menyenangkan.
Ternyata Ada Istilahnya: Flâneur
Ternyata apa yang selama ini kulakukan punya istilah sendiri.
Namanya flâneur.
Istilah ini berasal dari Prancis dan secara sederhana menggambarkan seseorang yang berjalan-jalan menikmati kota tanpa tujuan yang terlalu kaku.
Bukan sekadar pergi dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya.
Tapi benar-benar menikmati perjalanan itu sendiri.
Walking.
Observing.
Wandering.
Discovering.
Tanpa harus selalu punya tujuan yang jelas.
Dan ternyata...
I love it.
Ketika melakukan flâneur, rasanya seperti memberi izin kepada diri sendiri untuk berhenti sebentar dari kesibukan.
Tidak memikirkan pekerjaan.
Tidak memikirkan deadline.
Tidak memikirkan target lima tahun ke depan.
Tidak perlu menjadi seseorang yang produktif setiap saat.
Cukup berjalan.
Melihat sekitar.
Menikmati kota.
Dan membiarkan diri sendiri penasaran dengan apa yang ada di balik jalan berikutnya.
Jadi, Buat Kamu yang Introvert...
Kalau kamu juga termasuk manusia introvert garis keras sepertiku, mungkin sesekali kamu bisa mencoba hal ini.
Pilih satu area di kota yang ingin kamu eksplor.
Nggak perlu jauh-jauh.
Setelah itu, coba jalan kaki tanpa membuat itinerary yang terlalu ketat.
Biarkan kakimu menentukan arah.
Temukan gang kecil yang belum pernah kamu lewati.
Cari hidden gem.
Mampir ke coffee shop yang terlihat menarik.
Foto spot yang menurutmu aesthetic.
Coba makanan dari warung kecil yang kamu temukan.
Atau sekadar menyapa warga lokal yang sedang duduk di depan rumah.
Nggak perlu buru-buru.
Nggak perlu mengejar banyak tempat.
Karena tujuan utamanya bukan checklist tempat wisata.
Tujuannya adalah menikmati perjalanan.
And Somehow, My Spark Came Back
Setelah beberapa kali melakukan perjalanan seperti ini, aku mulai merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku excited lagi.
Aku mulai penasaran dengan kota lain.
Mulai mencari tempat-tempat baru.
Mulai menyusun rencana perjalanan.
Mulai mendokumentasikan perjalanan.
Mulai punya banyak cerita untuk ditulis.
Dan yang paling penting...
Aku merasa bahagia lagi dengan hal-hal sederhana.
Ternyata, mungkin selama ini aku tidak benar-benar kehilangan spark.
Mungkin aku hanya terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar sampai lupa bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dari hal-hal kecil.
Dari berjalan kaki.
Dari secangkir kopi.
Dari gang kecil yang belum pernah dilewati.
Dari sebuah bangunan tua.
Dari foto random yang diambil di tengah perjalanan.
Atau dari perasaan,
"Wah, ternyata ada tempat seperti ini di kota ini."
Dan mungkin memang seperti itu cara hidup bekerja.
Kadang kita tidak membutuhkan perubahan besar.
Kita hanya perlu menemukan kembali hal kecil yang membuat kita merasa hidup.
Something that makes us curious.
Something that makes us excited.
Something that brings our spark back.
Untukku, saat ini jawabannya adalah flâneur.
Mungkin besok bisa jadi sesuatu yang lain.
Dan itu nggak apa-apa.
Karena hidup memang bukan tentang selalu memiliki tujuan besar.
Kadang, kita hanya perlu menikmati jalan yang sedang kita lalui.
🌙
Di postingan berikutnya, aku akan sharing tentang hasil petualanganku melakukan flâneur di beberapa kota yang pernah aku kunjungi.
Tentang gang-gang kecil yang kutemukan, tempat-tempat unik yang kudatangi, makanan yang kucoba, foto-foto yang kuambil, dan cerita-cerita kecil di balik perjalanan tersebut.
See you on my next adventure! ✨



.png)
Comments
Post a Comment