From Overthinking to Overcoming
Sudah lama banget rasanya aku nggak update apa pun di blog ini. Terakhir kali aku menulis itu tanggal 1 Januari 2026. Sekarang? Sudah 18 Juli 2026. Enam bulan berlalu begitu saja.
Jujur, pas mau mulai nulis lagi aku sempat bingung. Mau cerita tentang apa, ya?
Enam bulan terakhir ini rasanya hidupku penuh sekali dengan berbagai macam peristiwa. Terlalu banyak kalau harus diceritakan satu per satu, dan beberapa memang terlalu rumit untuk dituliskan. Jadi, di postingan kali ini aku cuma ingin berbagi dua momen yang paling berkesan buatku.
Kenapa dua peristiwa ini begitu spesial?
Karena untuk pertama kalinya aku benar-benar keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi ketakutan yang selama ini selalu menghantuiku.
Aku tipe orang yang suka berpikir panjang, membuat rencana, mempertimbangkan segala kemungkinan. Kedengarannya bagus, ya? Tapi kalau berlebihan, ternyata capek juga. Bertahun-tahun aku hidup di dalam bayang-bayang kekhawatiranku sendiri. Takut salah langkah, takut menyesal, takut gagal.
Pelan-pelan, aku mulai mencoba keluar dari "penjara pikiran" itu.
And yeah... I did it. I survived. I handled my worries better than I ever thought I could.
Yeeey... akhirnya aku resmi melanjutkan pendidikan ke Magister Psikologi.
Kalau kalian sudah lama mengikuti blog ini, mungkin kalian tahu kalau aku sudah sering sekali menulis tentang keinginanku untuk kuliah lagi. Dari zaman masih ada Magister Profesi Psikologi sampai akhirnya sistemnya berubah menjadi Pendidikan Profesi Psikologi, keinginan itu nggak pernah benar-benar hilang.
Qadarullah, ternyata rezekiku datang dalam bentuk Magister Psikologi terlebih dahulu.
Dan ternyata... keputusan ini jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Selama bertahun-tahun aku berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya lebih banyak berasal dari pikiranku sendiri.
"Apa aku sanggup membiayai kuliah sampai lulus?"
"Apa aku harus resign dari pekerjaan yang sudah kubangun dari nol?"
"Apa kuliah lagi benar-benar worth it?"
"Kalau bukan di kampus impian, apa aku bakal menyesal?"
Dan masih banyak pertanyaan lain yang kalau dipikir sekarang... ternyata cuma membuatku diam di tempat.
Aku nggak berani maju, tapi juga nggak mau mundur.
Akhirnya hidupku terasa stagnan. Jalan terus, tapi rasanya nggak ke mana-mana.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk sedikit mengubah ambisiku.
Targetku bukan lagi "harus kuliah di kampus impian."
Tapi menjadi:
"Ambil magister, pertahankan karier, dan turunkan ekspektasi soal kampus."
Jujur, melepaskan impian yang sudah dipegang bertahun-tahun itu nggak mudah.
Tapi sekarang aku sadar, kadang kita memang nggak bisa mendapatkan semuanya sekaligus.
Aku mendapatkan dua hal yang sangat penting: tetap bisa kuliah dan tetap mempertahankan karierku.
Sebagai gantinya, aku harus merelakan satu hal: belum bisa belajar di kampus impian.
Kalau dipikir-pikir... ya, cukup impas.
Perjalanannya sendiri juga jauh dari kata mudah.
Aku bekerja full-time Senin sampai Sabtu, sementara kuliah berlangsung Jumat sampai Minggu. Memang sebagian besar kelas dilakukan secara online, tapi tetap saja energi dan fokusku terbagi ke banyak hal.
Waktu istirahat berkurang.
Jarang main sama teman.
Hari-hari dipenuhi pekerjaan dan tugas kuliah yang rasanya nggak ada habisnya.
Beberapa kali aku benar-benar capek.
Pernah juga sampai kepikiran, "Apa aku menyerah aja ya?"
Apalagi saat pekerjaan sedang berat-beratnya, sementara tugas kuliah datang bertubi-tubi.
Tapi justru di masa-masa itu aku belajar banyak tentang diriku sendiri.
Aku belajar menerima kalau ternyata kapasitas manusia memang ada batasnya.
Aku belajar mengurai satu per satu keruwetan di kepala, bukan memikirkan semuanya sekaligus.
Dan tanpa terasa...
Semester pertama selesai juga.
Dengan segala drama, rasa lelah, overthinking, dan begadang yang menyertainya.
Alhamdulillah, hasilnya jauh lebih baik dari yang aku bayangkan.
Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Ini mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.
Tapi buatku...
Ini adalah pengalaman yang sangat spesial.
Selama 28 tahun hidup, untuk pertama kalinya aku akhirnya berpergian ke luar Jawa Timur.
Destinasinya adalah Semarang.
Aku masih ingat ada seseorang yang pernah kaget saat tahu aku belum pernah ke luar Jawa Timur.
Katanya,
"Serius? Belum pernah ke Jakarta? Itu kan ibu kota Indonesia. Parah sih. Katanya orang kaya kok belum pernah ke mana-mana."
Di dalam hati aku cuma bisa ketawa.
"Lho, siapa juga yang bilang aku orang kaya?"
Aku nggak pernah memproklamirkan berasal dari keluarga yang kaya.
Alhamdulillah, keluargaku selalu berusaha memenuhi kebutuhan utama seperti sandang, pangan, papan, dan pendidikan.
Tapi untuk urusan travelling, itu adalah sebuah privilege.
Karena itu, saat akhirnya aku bisa pergi ke Semarang selama tiga hari dua malam menggunakan hasil usahaku sendiri, rasanya benar-benar berbeda.
Bukan soal kotanya.
Bukan soal hotelnya.
Bukan soal tempat wisatanya.
Tapi soal perjalanan yang berhasil kuusahakan sendiri.
Aku jadi sadar...
Hal yang terlihat kecil bagi seseorang, bisa jadi merupakan pencapaian besar bagi orang lain.
Makanya, berhati-hatilah dengan lisan.
Ucapan memang tidak meninggalkan luka yang terlihat, tapi bisa meninggalkan bekas yang sangat lama di hati seseorang.
Selama di Semarang, aku juga menemukan sesuatu tentang diriku sendiri.
Ternyata aku sangat menikmati travelling.
Entah sendirian ataupun bersama kelompok kecil.
Aku senang berjalan menyusuri sudut-sudut kota.
Mencoba makanan khas.
Membeli oleh-oleh kecil sebagai kenang-kenangan.
Memotret banyak sekali foto.
Sampai menyusun itinerary perjalanan dengan detail.
Semua prosesnya terasa menyenangkan.
Mulai dari menabung sedikit demi sedikit setiap bulan, war tiket kereta, booking hotel, sampai akhirnya semuanya berjalan sesuai rencana.
Dan lucunya...
Sampai sekarang, rasanya sebagian hatiku masih tertinggal di Semarang.
Sepulang dari sana, bukannya merasa puas, aku malah semakin semangat menabung lagi.
Karena sekarang aku punya tujuan baru.
Aku ingin menjelajahi kota-kota lain.
Mungkin memang harus sabar menabung lagi.
Tapi justru itu yang membuatku bersemangat.
Rasanya menyenangkan ketika kita punya sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Pelan-pelan hidupku kembali terasa berwarna.
Aku kembali punya mimpi.
Punya tujuan.
Punya hal-hal kecil yang membuatku excited setiap bangun pagi.
Kalau kalian sedang membaca tulisan ini, semoga kalian juga menemukan satu hal yang membuat kalian bersemangat menjalani hidup.
Nggak harus sesuatu yang besar.
Nggak harus sesuatu yang mahal.
Cukup sesuatu yang membuat hati kalian berkata,
"Aku ingin mengusahakan ini."
Bismillah.
La haula wa la quwwata illa billah.





.png)
Comments
Post a Comment