Refleksi 2025: Tahun Bertahan, Tahun Bertumbuh!

Banyak orang menyebut tahun 2025 sebagai tahun survival. Sebuah fase di mana hidup terasa penuh kejutan, atau mungkin lebih tepatnya, ujian. Hal-hal "ajaib" terjadi silih berganti, bukan hanya dalam kehidupan pribadi, tetapi juga di ruang publik dan sosial yang kita hadapi setiap hari.

Rasanya tidak berlebihan jika sebagian dari kita sempat bertanya, "Dosa apa ya kita lahir sebagai WNI?". Beragam peristiwa datang bertubi-tubi, kebijakan MBG yang memantik pro-kontra, rangkaian demonstrasi dari #IndonesiaGelap hingga #ResetIndonesia, hingga banjir bandang di Sumatera yang penanganannya terasa lambat. Di tengah semua itu, muncul solidaritas akar rumput lewat istilah #WargaJagaWarga sekaligus menjadi penanda bertapa lelahnya masyarakat Indonesia melihat kinerja pemerintah yang baru. Semua terasa begitu overwhelming, memicu rasa marah, cemas, dan lelah secara emosional.

Secara personal, aku pun benar-benar merasakan mode survival di tahun 2025. Untuk pertama kalinya, aku mengalami burnout, kehilangan motivasi, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya terasa ringan. Terutama dalam pekerjaan, hari-hari berjalan terasa sangat berat dan lama. Tubuh lelah, pikiran pun ikut terkuras. Capek secara fisik dan psikis, sampai beberapa kali aku sengaja mengambil waktu khusus untuk berhenti sejenak dari segalanya.

Menjelang tahun baru 2026, aku menengok ke belakang. Aku menuliskan 10 refleksi kehidupan sepanjang perjalanan di tahun 2025. Hal ini sebagai pengingat untuk diriku, sekaligus caraku memetakan apa yang benar-benar aku butuhkan di tahun berikutnya. Berikut adalah 10 refleksi tahun 2025 versiku.

1. Hal apa yang paling aku syukuri dari tahun ini?

Alhamdulillah, meski tahun 2025 bagiku terasa sebagai tahun survival, ada begitu banyak hal yang patut kusyukuri. Mulai dari kesehatan yang masih terjaga, rezeki pekerjaan, rezeki pertemanan, hingga rezeki keluarga yang selalu membersamai. Meski hingga tahun ini rezeki jodoh belum menampakkan hilalnya, aku justru mendapatkan rezeki lain yang tak kalah berharga: kesempatan untuk lebih mengenal diriku sendiri. Dan itu adalah nikmat yang layak disyukuri sebesar-besarnya.

Di tahun ini, aku merasakan hasil dari penilaian kinerja yang mendapatkan grade A, yang berdampak pada peningkatan penghasilan yang kuterima. Selain itu, aku juga mendapat amanah dan apresiasi sebagai guru dengan kinerja terbaik pada peringatan Hari Guru, yang kemudian menghadiahkanku logam mulia seberat 1 gram. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Setiap bentuk kebaikan selalu layak untuk disyukuri, sekecil apa pun bentuknya.

Hal lain yang juga menjadi bagian dari rasa syukurku di tahun 2025 adalah perubahan cara pandangku terhadap uang. Di tahun sebelumnya, aku sangat menahan diri dalam menggunakan penghasilan karena ada tujuan besar yang ingin kukejar. Qadarullah, di tahun ini aku mulai lebih berani menggunakan sebagian dari tabungan tersebut untuk membeli barang-barang yang menunjang kemudahan dan kenyamanan hidup.

Beberapa di antaranya adalah tablet dengan spesifikasi terbaru, smart TV, dispenser, set CCTV, air cooler, dan kebutuhan penunjang lainnya. Awalnya aku sempat ragu, tetapi ternyata aku benar-benar menikmati manfaat dari barang-barang tersebut. Bukan sekadar simbol gaya hidup, melainkan sebagai bentuk mempermudah dan menghargai proses yang telah dan akan kulalui.

Dari sini aku belajar bahwa bersyukur bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga tentang memberi ruang pada diri sendiri untuk menikmati hasil jerih payah dengan bijak dan penuh kesadaran.

Saking banyaknya hal yang patut disyukuri, aku bahkan merasa speechless dan bingung harus menuliskannya satu per satu. Pada akhirnya, meski ada beberapa hal yang belum tercapai di usiaku yang sudah menginjak 25++, aku menyadari bahwa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat dalam hidupku.

Bismillah, semoga di tahun-tahun berikutnya Allah memudahkan jalanku untuk meraih hal-hal yang belum tercapai, sembari terus menjaga rasa syukur atas apa yang telah titipkan hari ini.

2. Pengalaman apa yang paling membentuk diriku tahun ini?

Pada pertengahan tahun, aku diamanahi untuk menjadi pembimbing bagi mahasiswa magang jurusan Psikologi dari sebuah universitas di Filipina yang belajar di tempatku bekerja. Sebenarnya, kolaborasi pembelajaran dengan warga asing bukanlah hal baru di sekolah kami. Kami cukup sering berkolaborasi dengan mahasiswa, siswa, guru dari berbagai belahan dunia. Hanya saja, kali ini peranku berbeda - aku ditunjuk sebagai penanggung jawab mahasiswa magang Filipina di jenjang SMP.

Dan jujur saja, reaksiku waktu itu: shak, shik, shok.

Overthinking-ku langsung kemana-mana. Bagaimana caraku berinteraksi dengan mereka dengan kemampuan speaking bahasa Inggris-ku yang pas-pasan ini? Bagaimana kalau terjadi miskomunikasi? Bagaimana kalau aku tidak mampu menjelaskan dengan baik? Segala kemungkinan terburuk berputar-putar di kepalaku.

Kekhawatiran itu terasa nyata ketika mereka akhirnya datang ke sekolah. Aku benar-benar mati kutu. Mulut rasanya terkunci, dan tanpa sadar aku menjadi salah satu pembimbing yang paling jarang membuka interaksi. Aku kebingungan sendiri, banyak sekali ide pembicaraan yang tertampung di otak yang sulit untuk diucapkan. 

Selama tiga bulan masa magang mereka, dengan modal bahasa Inggrisku yang terbatas, aku berusaha sebaik mungkin memfasilitasi kebutuhan magang mereka dengan baik. Syukurnya, para mahasiswa ini sangat baik dan tidak judgmental. Beberapa kali memang terjadi miskomunikasi, tapi bisa kami selesaikan bersama dengan saling memahami.

Perlahan, aku mulai memaksa diri untuk terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris. Tidak sempurna, sering terbata-bata, tetapi lebih konsisten mempraktikkannya. Dari situlah aku merasakan perubahan kemampuan speaking-ku semakin membaik, dan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan warga dunia pun perlahan tumbuh. 

Di akhir masa magang, mereka memberikan umpan balik yang sangat positif tentang pengalaman magang di sekolah kami. Mereka mengaku bahagia dengan proses belajar yang dijalani, termasuk bimbingan yang mereka terima dariku dan Ust. Meutia. Mendengar itu, rasanya hangat sekali di dada. 

Sungguh, aku merasa sangat bangga dengan diriku sendiri. Dari seseorang yang awalnya tidak percaya diri dan gagap saat harus berbicara, hingga kini menjalin hubungan baik dengan mereka. Bahkan setelah mereka kembali ke Filipina, kami masih sering berkomunikasi dan bertukar kabar.

Yang membuat pengalaman ini semakin priceless, dosen pembimbing mereka dari Universitas Airlangga turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas bimbingan yang kami berikan kepada para mahasiswa. Sebuah pengakuan yang tak ternilai, dan menjadi pengingat bahwa keberanian untuk mencoba, meski dengan rasa takut, bisa membawa kita pada versi diri yang jauh lebih berkembang.

3. Tantangan terberat apa yang aku hadapi, dan apa pelajaran utamanya?

Jika menengok sejenak ke belakang, tantangan terberat yang kuhadapi sepanjang tahun 2025 sebenarnya bukan berasal dari luar, melainkan dari kondisi mentalku sendiri. Tahun ini dipenuhi oleh beragam emosi yang tidak nyaman, termasuk kekecewaan yang kembali terulang. Beberapa kali, aku juga mengalami trigger dari hal-hal yang masih menjadi traumaku, hingga tubuhku ikut bereaksi saat ingatan dan emosi itu muncul kembali. 

Semua ini terjadi karena ada banyak perasaan di dalam diriku yang belum sepenuhnya selesai. Pikiran-pikiran yang menumpuk, emosi yang belum sempat diurai, dan luka yang masih perlu diproses satu per satu. Semakin banyak hal yang belum terselesaikan, semakin sering pula aku berhadapan dengan berbagai trigger. Tak heran jika tahun ini sangat melelahkan secara mental.

Meski begitu, tahun 2025 juga mengajarkanku satu hal penting: belajar berkompromi dengan ketidaknyamanan. Aku mulai menerima bahwa tidak semua situasi bisa kuubah, tetapi aku masih bisa memilih bagaimana caraku meresponsnya. Perlahan, aku membangun mekanisme perlindungan diri, lebih fokus pada diriku sendiri, menjaga batas, dan memberi ruang untuk pulih.

Bukan karena ingin menghindar, melainkan karena aku tidak ingin terluka lebih dalam  dan memperburuk kondisi mentalku sendiri. Di titik ini, aku belajar bahwa melindungi diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian yang paling jujur pada diri sendiri.

4. Dalam hal apa aku bertumbuh, meski perlahan?

Dulu, aku sering merasa heran dengan ucapan ulang tahun atau ucapan apa pun yang menyelipkan doa, "semoga selalu sehat."  Dalam benakku saat itu, doa tersebut terdengar terlalu biasa. Kok gitu doang? Seolah-olah sehat adalah sesuatu yang sudah pasti dimiliki semua orang. Rasanya jauh lebih "wow" jika doa itu diganti dengan hal-hal besar: bisa umrah, keliling dunia, atau punya villa sendiri. Keren kan ya?

Hingga suatu hari, hidup memberiku pelajaran yang sangat mahal.

Kedua orang tuaku harus menjalani pengobatan rutin. Keluar masuk rumah sakit, bolak-balik ke laboratorium, konsultasi dengan dokter spesialis, dan menebus obatt-obatan dengan biaya yang tidak sedikit. Semua proses itu kami jalani secara mandiri, tanpa mengandalkan BPJS. Di titik ituu, aku benar-benar merasa ditampar oleh kesombonganku sendiri.

Barulah aku paham: kesehatan adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Aku sangat menyesali sikapku kala itu. Sungguh, terasa bodoh dan memalukan jika mengingat bagaimana aku meremehkan kekuatan doa "sempga selalu sehat". Doa yang sederhana, tapi justru paling mendasar. Tanpa kessehatan, semua doa yang terdengar "wow" itu kehilangan maknanya.

Sejak saat itu, aku mulai belajar mengubah sikap. Tidak ada doa yang biasa saja atau doa yang "wow", semua doa tentu saja mengandung harapan baik. Aku berusaha untuk lebih berprasangka baik dalam memandang segala hal, serta tidak mudah menghakimi. Memang tidak mudah untuk selalu berpikir positif, tetapi aku memilih untuk terus berusaha.

Aku juga membiasakan diri untuk lebih sering berdzikir, memohon ampunan, sekaligus mengingat dan memuji-Nya. Perlahan, aku belajar merendahkan hati dan menyadari keterbatasan diri sebagai manusia.

Semoga Allah memudahkan langkahku untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, rendah hati, dan mawas diri dalam setiap fase kehidupan.

5. Kebiasaan atau sikap apa yang paling membantuku tahun ini?

Sikap yang paling membantuku bertahan di tahun 2025 adalah kemampuanku untuk mulai memahami kondisi tubuh dan psikisku sendiri. Secara fisik, alhamdulillah aku tidak mengalami sakit yang berkepanjangan atau serius. Namun dari sisi psikologis, aku sering merasa kewalahan menghadapi dinamika emosi yang naik turun seiring dengan banyaknya tekanan yang datang silih berganti. Kabar baiknya, di tahun ini aku mulai benar-benar belajar mengenali kondisi mentalku.

Aku teringat diriku yang dulu, sangat ambisius dan terbiasa bekerja keras dalam kondisi apa pun. Bahkan ketika sakit, aku tetap memaksakan diri masuk kerja demi menjaga tunjangan kehadiran. Kini, perlahan aku belajar menerima bahwa aku tidak selalu harus kuat. Aku mulai mengakui ketika kondisi psikisku sedang tidak baik-baik saja, dan berani menonaktifkan beberapa aktivitas demi memulihkan diri. Aku menenangkan diriku sendiri dengan kalimat sederhana, “Tidak apa-apa kok mengambil jeda kalau capek.” Kesadaran bahwa aku sedang berada di posisi yang rentan membuatku lebih berhati-hati dan penuh kasih pada diri sendiri.

Selain itu, sikap lain yang sangat membantuku adalah menerapkan batasan dengan lebih jelas. Baik dalam relasi pekerjaan, tugas-tugas di luar jobdesk, maupun terhadap ekspektasi yang kerap kubebankan pada diri sendiri. Dengan batasan yang lebih tegas, aku merasa lebih terarah dalam menjalani aktivitas sehari-hari, lebih efektif, lebih fokus, dan tidak mudah kelelahan karena hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari.

Menetapkan boundaries juga membantuku secara emosional. Aku tidak lagi mudah terbawa perasaan pada hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan langsung denganku. Aku belajar memilih mana yang perlu kuperhatikan, dan mana yang boleh kulepaskan.

Dari proses ini, aku memahami bahwa menjaga diri bukanlah bentuk kemunduran, melainkan cara agar aku bisa tetap bertahan dan terus melangkah dengan lebih sehat.

6. Kebiasaan atau pola pikir apa yang justru menghambatku?

Salah satu kebiasaan yang menjadi penghambat terbesar dalam hidupku sepanjang tahun 2025 adalah kebiasaan menunda-nunda, atau yang sering disebut sebagai prokrastinasi. Kebiasaan ini terasa semakin parah karena ritme aktivitas dan pekerjaanku yang sangat padat. Ketika akhirnya ada jeda untuk beristirahat, aku justru sering kebablasan menikmati waktu istirahat tersebut, hingga menunda banyak hal yang seharusnya bisa diselesaikan lebih awal.

Rasa jenuh dan burnout yang menyerang kondisi psikisku juga memperburuk keadaan. Pikiran-pikiran overthinking berputar-putar di kepala tanpa arah yang jelas. Meski sudah kuselesaikan satu per satu, namun problem utama dalam overthinking-ku belum tertangani dengan baik, sehingga berubah menjadi beban psikis tersendiri. Meski aku sudah berusaha memahami apa yang menjadi sumbernya, belum ada langkah konkret yang benar-benar konsisten untuk menguraikannya secara perlahan.

Karena itu, memasuki tahun 2026, aku berharap bisa mulai menghadapi persoalan ini dengan lebih sadar dan bertahap, mengurai satu per satu apa yang mengganjal di pikiran dan hati, agar tidak terus menjadi beban yang tertahan.

Selain prokrastinasi, pola pikir lain yang juga menghambat langkahku adalah rasa mudah puas atas apa yang telah diperoleh. Aku menyadari bahwa aku masih kerap menyepelekan hal-hal yang sebenarnya sudah kuasai, bahkan sesekali terjebak pada rasa jumawa. Pola pikir ini membuatku merasa “cukup” terlalu cepat, padahal kenyataannya masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih mampu, tetapi tetap rendah hati dan terus belajar.

7. Bagaimana kondisi emosiku sepanjang tahun ini, dan apa penyebabnya?

Sepanjang tahun 2025, sebagian besar emosi yang aku rasakan berada di titik biasa saja. Tidak ada lonjakan emosi yang terlalu tinggi, tidak juga kejatuhan yang terlampau dalam. Jika harus digambarkan dalam skala 1–100, rentang emosiku seolah berhenti di angka 50.

Bahkan pada momen yang seharusnya membahagiakan, saat aku menerima penghargaan sebagai guru dengan penilaian kerja terbaik dan mendapatkan hadiah. Aku tidak merasakan euforia atau kepuasan yang membuncah. Aku tetap bersyukur, tentu saja, tetapi rasa bahagianya tidak sampai pada titik “bahagia banget”. Semuanya terasa datar, tenang, dan cepat berlalu.

Hal yang sama juga terjadi pada emosi negatif. Sepanjang tahun ini, aku beberapa kali mengalami emosi yang datang bersamaan: sedih, bingung, kecewa, kesal, kikuk, tidak nyaman, marah, bahkan putus asa. Namun, intensitasnya tetap berada di rentang yang sama, tidak meledak-ledak, tidak pula sepenuhnya melumpuhkan. Semuanya berhenti di batas aman, seolah ada tembok tak kasat mata yang menahan emosi agar tidak meluap.

Emosi yang paling sering aku rasakan justru adalah rasa hampa. Aku menjalani hari-hari seperti mode autopilot, melakukan rutinitas sebagaimana mestinya, tanpa benar-benar melibatkan perasaan di dalamnya. Hidup berjalan, tetapi tidak selalu terasa hidup.

Perlahan, gairah itu mulai muncul dari hal yang tidak terduga. Saat aku memutuskan untuk berjualan snack di sekolah, ada kembali rasa excited yang lama menghilang. Aku menikmati prosesnya: memikirkan ide jualan, berbelanja bahan, memasak, hingga mengatur keuangan. Aktivitas sederhana ini memberiku rasa kendali dan kesenangan yang nyata.

Selain itu, aku juga menemukan kenyamanan dalam sesi merawat diri. Hal-hal kecil seperti memasak hidangan kesukaan, menggunakan skincare, bodycare, dan haircare, hingga deep cleaning rumah dan utamanya kamar tidur, mengganti sprei, merapikan ruang, dan memberi pewangi kamar ternyata mampu menghadirkan rasa tenang dan kepuasan dalam diriku. Aktivitas scrolling marketplace atau window shopping untuk berbelanja keperluan merawat diri menjadi sesi yang menyenangkan bagiku. Dari sanalah aku menyadari bahwa di tengah kehampaan, hidup tetap bisa terasa melalui hal-hal sederhana.

Oh, aku melupakan 1 hal. Mulai 2025, aku resmi menjadi CARAT hehehe

SEVENTEEN benar-benar moodmaker buatku, aku bahagia melihat interaksi dan mendengarkan lagu-lagu mereka. Pokoknya, cinta SEVENTEEN banyak-banyak💎

8. Hubungan apa yang paling bermakna bagiku di tahun ini, dan mengapa?

Di tahun ini, aku bertemu dengan banyak orang baru. Dari perjumpaan-perjumpaan itu, aku menyadari satu hal penting: aku tidak mudah cocok dengan semua orang. Entah bagaimana menjelaskannya secara logis, tetapi aku bisa merasakan apakah energi kami sefrekuensi atau tidak. Ketika ada kecocokan, interaksi terasa mengalir dan mudah terbangun. Sebaliknya, ketika energinya tidak sejalan, baik aku maupun orang tersebut sama-sama kesulitan untuk menjalin kedekatan.

Dari situ aku memahami bahwa hubungan yang paling bermakna bagiku adalah hubungan yang memiliki kecocokan perasaan. Aku menyadari bahwa perasaan bersifat sangat subjektif, dan setiap orang yang hadir dalam hidup kita memang datang dengan masanya masing-masing. Bisa jadi hari ini aku merasa klop dengan seseorang, namun di waktu lain aku menyadari bahwa nilai-nilai yang kami pegang sudah tidak lagi sejalan. Hubungan pun perlahan merenggang, meski tetap terhubung dalam batas yang wajar.

Seiring bertambahnya usia, aku juga merasakan bahwa lingkar relasiku semakin menyempit. Banyak hubungan yang kini kujalani bersifat transaksional dan profesional, sehingga unsur kenyamanan emosional di dalamnya terasa samar. Bahkan hubungan yang dulu dilandasi rasa “memiliki” perlahan menjadi lebih bias. Bukan karena konflik, melainkan karena jarak, kesibukan, dan ritme hidup yang semakin berbeda.

Hal yang paling kusyukuri dari hubungan-hubungan yang masih bermakna adalah adanya ruang pribadi yang saling dihormati. Meski intensitas bertemu dan berkomunikasi tidak lagi sering, hubungan tetap terjaga dengan rasa saling menghargai. Aku belajar menerima bahwa hubungan yang sudah terjalin lama pun bisa berubah seiring waktu, terutama ketika values yang dipegang tidak lagi sepenuhnya sejalan.

Dan itu tidak apa-apa. Selama tidak saling menyakiti, tidak memaksakan kehendak, dan tetap menjaga rasa hormat, menjaga jarak yang sehat justru terasa jauh lebih dewasa daripada memaksakan kedekatan demi kesamaan yang sudah tidak lagi ada.

9. Hal apa yang perlu aku lepaskan agar bisa melangkah lebih ringan?

Ada satu keinginan besar yang sejak lama sangat kupegang: melanjutkan pendidikan di kampus impian. Untuk mewujudkan impian ini, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Aku menyadari betul bahwa aku tidak berasal dari keluarga dengan privilese finansial. Secara akademik pun aku bukan tipe yang sangat pintar di atas rata-rata. Aku tekun, ulet, dan pekerja keras, tetapi aku juga belajar bahwa ketekunan saja tidak selalu cukup tanpa ditopang kondisi finansial yang memadai.

Aku sudah berusaha sekuat tenaga dan semampu yang aku bisa. Namun seiring berjalannya waktu, impian itu terasa semakin sulit diraih, terutama di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang. Di titik ini, berbagai pertanyaan dan penyesalan sering muncul di kepalaku: mengapa aku tidak berani melangkah lebih awal? Mengapa dulu aku tidak berjuang lebih keras? Andai saat pandemi aku lebih berani mengambil peluang, mungkin kondisinya berbeda. Berbagai “andaikan” itu kerap datang silih berganti.

Namun setelah berkali-kali menimbang dan merenung, aku menyadari satu hal: baik dulu maupun sekarang, kondisiku sebenarnya tidak jauh berbeda, aku sama-sama sedang berjuang. Perbedaannya, hari ini aku berada di posisi yang jauh lebih baik. Aku mulai mampu mengupayakan impian ini dengan kakiku sendiri, meski harus menurunkan ekspektasi.

Saat ini, secara finansial insyaAllah aku sudah cukup untuk melanjutkan studi. Hanya saja, aku harus menerima satu konsekuensi: menurunkan standar kampus yang selama ini kuimpikan. Dari sini, aku kembali bertanya pada diriku sendiri dengan lebih jujur apakah tujuan utamaku adalah belajar untuk mengembangkan kemampuan, atau sekadar mencari validasi melalui nama besar kampus?

Dari perenungan itu, aku sampai pada kesimpulan bahwa memiliki impian adalah hal yang baik, tetapi memahami realitas hidup adalah bentuk kedewasaan. Karena itu, di tahun 2025 aku memilih untuk mulai melepaskan obsesiku pada kampus tersebut. Bukan karena menyerah, melainkan karena aku belajar berdamai dengan keadaan.

Aku masih menyimpan harapan untuk bisa belajar di sana suatu hari nanti. Namun realitas saat ini memang belum memungkinkan, bukan hanya soal finansial, tetapi juga faktor-faktor lain yang pernah kuhadapi, termasuk penolakan karena ketidaksesuaian akreditasi dan aturan jadwal perkuliahan yang tidak sesuai dengan jadwal bekerjaku. Dan aku belajar menerima itu tanpa menyalahkan diri sendiri.

Aku percaya pada satu hal: apa yang telah menjadi takdirku, tidak akan pernah melewatkanku. Semoga dengan melepaskan obsesi yang berlebihan, bebanku menjadi lebih ringan, dan Allah membukakan jalan yang lebih indah menuju takdir terbaik yang telah Dia siapkan.

10. Arah hidup seperti apa yang ingin aku tuju di tahun depan?

Di antara banyak hal yang bisa kuharapkan di tahun depan, sebenarnya aku hanya menginginkan satu: menjadi lebih dekat dengan Tuhanku.

Akhir-akhir ini, rasa hampa dalam hidupku semakin terasa. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh pencapaian, kesibukan, atau validasi apa pun. Karena itu, aku ingin kembali ke fitrah, kembali menata hubungan dengan Allah sebagai pusat hidupku.

Secara duniawi, aku tetap ingin bekerja keras dan mengusahakan yang terbaik dalam setiap peran yang kujalani. Namun dari sisi religiusitas, aku ingin lebih sungguh-sungguh. Aku ingin belajar untuk tidak lagi menunda-nunda ibadah wajib, berusaha lebih tepat waktu, serta perlahan menambah kualitas dan kuantitas ibadah sunnah. Bukan untuk terlihat lebih baik, melainkan untuk merasa lebih utuh.

Seiring bertambahnya usia, keinginanku pun menjadi lebih sederhana. Aku tidak lagi muluk-muluk dalam meminta. Aku hanya ingin ketenangan, tenang dalam bekerja, tenang dalam belajar, dan tenang dalam beribadah. Ketenangan yang membuat hidup terasa cukup, meski tidak selalu sempurna.

Aku juga ingin kembali pada rutinitas yang menumbuhkan: mengurangi screen time, memperbanyak aktivitas yang positif dan memberdayakan, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan nyata.

Bismillah, semoga langkah kecil ini dimudahkan. Semoga aku diberi kekuatan untuk istiqamah, dan diberi hati yang selalu ingat ke mana harus kembali.

Terima kasih untuk kerja kerasnya, Fia💖

Comments