#6 REFLEKSI: DUA PULUH LIMA

Baiklah, untuk mengawali tulisan ini, saya awali dengan pertanyaan sederhana.

"Bagaimana kesanmu ketika berada di usia dua puluh lima tahun?"

🌙

Dua puluh lima tahun.

Ketika saya masih remaja awal, saya seringkali berpikir bagaimana kehidupan saya ketika berusia dua puluh lima tahun. Pandangan saya saat itu berasal dari ekspektasi masyarakat tentang kehidupan ideal manusia berusia dua puluh lima tahun. Seperti:

"Sudah menikah dengan sosok suami yang luar biasa, melahirkan anak yang pinter dan lucu, memiliki rumah dan kendaraan pribadi yang sangat layak, kehidupan karir saya sangat lancar, punya banyak aset, dsb"     

Pandangan seperti itu turut mempengaruhi  ekspektasi saya tentang pencapaian ideal saat berusia dua puluh lima tahun.  Sehingga hal ini terpatri dalam ingatan saya bahwa pada usia dua puluh lima tahun kita menjadi sosok yang sukses dalam pandangan masyarakat. 

Ketika saya secara nyata menginjak usia dua puluh lima tahun, pandangan saya mengenai hal ini 100% berubah sepenuhnya. Hal ini dikarenakan, seiring dengan berjalannya waktu, semakin bertambahnya usia, banyak hal yang telah saya lalui dan itu mengubah pandangan saya terhadap suatu nilai yang pernah saya yakini. Jika pada usia 20-24 tahun merupakan fase yang bergejolak bagi saya, namun di usia dua puluh lima tahun merupakan fase yang menantang sekaligus menenangkan dalam hidup saya. 

Ketika berada di usia 21-24 tahun, saya dihadapkan dengan banyak peristiwa kegagalan dan penolakan pada hal-hal yang saya inginkan. Meski sempat merasa down, namun sedikit demi sedikit saya berusaha untuk bangkit dan memantapkan hati dengan menata hidup saya kembali. Saya berterima kasih pada mental adaptasi saya yang bisa mengatasi segala situasi dan tantangannya. 

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk -Tan Malaka-

Menginjak usia dua puluh lima tahun, cara berpikir dan nilai-nilai yang saya yakini sudah banyak berubah. Saya sudah tidak seambisius dulu, hidup saya sudah lebih santai. Saya tidak lagi depresi jika saya gagal meraih sesuatu, bahkan saya merespon kegagalan dengan tenang sambil ber-mindset "Ya sudahlah, belum rezeki. InshaAllah ada rezeki lain yang jauh lebih baik dari ini". Singkatnya, saya yang berusia dua puluh lima tahun lebih bodo amat pada hal-hal yang belum bisa saya capai atau hal-hal yang bukan rezeki saya. 

Ketika saya menerapkan mindset tersebut, hidup saya jauh lebih tenang. Saya tidak lagi memandang pencapaian orang lain dengan rasa iri atau berkecil hati dengan kondisi yang saya alami. Saya menikmati segala proses yang saya lalui dalam hidup saya. Karena saya percaya dalam setiap proses yang saya lalui disitulah belajar menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan lebih tangguh dari sebelumnya.

Beberapa pelajaran hidup yang saya dapatkan ketika berusia dua puluh lima tahun, diantaranya:

  • Kenali, sayangi, dan utamakan dirimu lebih dari kamu memperlakukan orang lain.

Pernah nggak sih kalian memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya sedangkan memperlakukan diri sendiri dengan seadanya? 

Hal ini pernah saya lakukan untuk mendapat perhatian dari seseorang. Saat itu, saya memberikan barang yang terbaik kepada orang tersebut, dan ya tentu saja saya berharap mendapatkan perhatian seperti yang saya inginkan. Karena saya butuh validasi dari orang tersebut.

Lalu apa yang saya rasakan setelah itu?

Saya merasa senang karena saya diberikan perhatian seperti yang saya harapkan. Akan tetapi, perasaan senang yang saya rasakan hanya berupa euforia sesaat. Keesokan harinya, euforia kebahagiaan tersebut sudah lenyap tak berasa sedikitpun. Malah yang ada saya merasa ingin memiliki barang yang saya berikan ke orang tersebut. 

Lucu ya, kita cenderung dengan mudahnya memberikan barang yang ingin kita beli atau membeli barang yang mahal untuk diberikan pada orang lain. Sedangkan jika kita membeli barang tersebut untuk diri kita sendiri masih berpikir seribu kali. Padahal ya kita yang bekerja keras tapi kita sendiri yang susah mengeluarkan uang untuk diri sendiri.

Pada usia dua puluh lima tahun, saya menyadari bahwa sangat capek berusaha keras untuk mendapatkan perhatian/pengakuan dari orang lain. Karenanya saya memutuskan untuk fokus menyayangi, mengembangkan, dan membahagiakan diri saya sendiri lebih dari apa yang saya lakukan pada orang lain. 

Saya percaya, diri saya yang berdaya dan berharga dibentuk oleh mindset dan penghargaan terhadap diri saya sendiri bukan hasil dari validasi orang lain. So, please love yourself firstt!!!

  • Jangan hanya belajar cara menjadi berhasil, belajar pula cara menerima dan berdamai dengan kegagalan

Pada usia dua puluh lima tahun, saya banyak belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Meski kita sudah berusaha semampu dan sekuat yang kita bisa, namun jika garis takdir kita berkehendak lain, apa lantas kita akan menyalahkan Tuhan? 

Karenanya penting bagi kita untuk belajar menerima dan berdamai kegagalan. Hal ini memang sangat tidak mudah apalagi untuk kita yang high achiever. Akan tetapi percayalah, ketika kita sudah mengenal diri kita dan tau bentuk mekanisme pertahanan diri yang harus kita lakukan ketika menghadapi kegagalan. Kita tidak akan berlarut-larut dalam suasana kegagalan dan bahkan turut mempercepat pemulihan luka batin akibat kegagalan tersebut.  

Kalau dalam psikologi konsep ini disebut welas asih (self compassion) dimana ini merupakan perasaan sadar akan penderitaan, kegagalan, ketidaksempurnaan, merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kepedulian terhadap diri sendiri dapat memberikan motivasi untuk bertumbuh dan berubah menjadi lebih baik lagi. Welas asih juga memberikan rasa aman dalam menerima diri sendiri karena tidak khawatir atas self censure (mengecam diri sendiri) dan self condemnation (menghukum diri sendiri). 

  • Belajar menyederhanakan isi pikiran.

Ketika kita sudah memasuki usia dua puluh lima tahun, akan banyak sekali menemukan trigger yang menggangu psikis kita. Saat kita membuka Instagram misalnya, isi dari feeds, stories, dan reels Instagram akan dipenuhi oleh kehidupan teman sebaya kita yang lamaran, menikah, melahirkan, memiliki rumah baru, karir cemerlang, lulus pendidikan tinggi, dsb. Sedangkan diri kita masih gini-gini saja dan belum membuat pencapaian seperti apa yang ditampilkan dalam media sosial.

Hal ini seringkali membuat kita merasa insecure dan isi pikiran kita dipenuhi oleh ketidakpuasan dalam hidup yang kita jalani. Karenanya salah satu hal yang saya tanamkan ketika saya dewasa ialah, belajar untuk mengendalikan isi pikiran bukan saya yang dikendalikan pikiran. Pilah mana peristiwa baik yang bisa kita renungkan dan pilah mana peristiwa yang cukup kita abaikan. 

Bagaimana pun, apa yang terjadi orang lain diluar kuasa kita. Mereka berbahagia atas pencapaian mereka, itu merupakan hak mereka. Jika kita merasa tidak suka melihat pencapaian orang lain, itu masalah kita. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain, akan tetapi kita bisa mengendalikan diri kita 😊

  • Pandai-pandailah memanage keuangan.
Pada usia dua puluh lima tahun, saya menyadari bahwa kebutuhan hidup manusia sangat banyak dan mahal. Dari kebutuhan pokok saja misalnya, harga bahan makanan, rumah dan pakaian saat ini tidak murah. Ditambah lagi kebutuhan sekunder dan tersier seperti pendidikan, kursus, kendaraan, paket data, BBM, listrik, air, iuran lingkungan, dsb. 

Sedangkan bonus demografi di Indonesia tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Sehingga bagi sebagian orang cukup susah mencari pekerjaan yang memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup nyaman. Karenanya selagi memiliki penghasilan, belajarlah untuk memanage keuangan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak ada kebutuhan yang mendesak dan diperlukan, sebisa mungkin tabung uang sebanyak yang kita bisa. 

Sejak saya memiliki penghasilan sendiri, saya belajar memanage keuangan. Saya belajar dari akun financial planner yang ada di Instagram atau dari pengalaman hidup seseorang yang lebih senior dari saya. Tentu saja saya tidak sepenuhnya mengikuti anjuran yang disarankan, tapi saya mempelajari dan menerapkan sesuai dengan kapasitas keuangan saya. Saya merasa hal ini sangat worth it untuk dilakukan, karena alhamdulillah penghasilan yang saya dapatkan bisa saya kelola untuk berbagai hal dan cukup sehingga tidak sampai meninggalkan hutang. 

Kalau kata ibu saya, kemampuan memanage keuangan ini merupakan skill yang tidak semua orang bisa lakukan. Bahkan dalam buku psychology of money yang saya baca mengatakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi atau orang yang berpenghasilan banyak belum tentu memiliki kemampuan memanage keuangan dengan baik. Karenanya sebagai orang dewasa, penting sekali untuk melatih kemampuan memanage keuangan dengan baik. 

  • Perbanyak rasa syukur atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita
Saya punya pengalaman menarik mengenai rasa syukur. Dari dulu saya tidak pernah bersyukur yang benar-benar syukur yang tulus dari hati. Biasanya bentuk syukur yang saya rasakan hanya pada lisan dan saya lakukan ketika saya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan saja. Karenanya ketika saya tidak mendapat apa yang saya inginkan atau saya mengalami kegagalan, saya cenderung menyalahkan diri saya sendiri. Serta ketika saya berhasil mendapatkan apa yang saya inginkan, saya merasa hal itu tidak cukup memuaskan bagi saya sehingga saya ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dan lebih lagi. 

Keadaan seperti itu membuat saya bertanya, "Bagaimana bentuk bahagia yang saya inginkan?"

Ketika secara tiba-tiba Allah memberikan ujian-ujian kepada saya pada waktu yang tidak saya duga, pelan-pelan saya mulai memaknai rasa syukur. Bahkan saya berpikir bahwa bisa jadi Allah memberikan ujian agar saya bisa belajar memaknai rasa syukur yang seharusnya. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa rasa syukur dari dalam hati memiliki dampak yang jauh lebih besar dari sekadar ucapan lisan. Rasa syukur ini menciptakan pemenuhan dan emosi positif dalam diri kita. 

🌙

*Tulisan ini berdasarkan opini pribadi dan hasil refleksi diri. Tidak ada niat saya mengeneralisir keadaan di usia dua puluh lima tahun. Semoga bisa diterima dengan baik, terima kasih 💓

Comments