#1 REFLEKSI: JODOH


Perihal jodoh, tak ada seseorang pun yang tau. Saat ini, aku sedang berada di semester 5 pendidikan sarjana. Tau nggak apa topik yang selalu dibahas oleh mahasiswa, apalagi menjelang semester akhir seperti diriku ini. Politik?, ekonomi?, atau isu-isu kemanusiaan?. Tentu tidak! mahasiswa menjelang akhir sepertiku topik-topik tersebut masih kurang booming ketimbang topik “jodoh”. Iya jodoh.

Temen-teman tau nggak? hampir setiap pembahasan obrolan kita, status, post instagram, facebook, dll semua membahas tentang jodoh. Ya wajar aja sih, pada usia yang rata-rata sudah memasuki masa dewasa awal memang tak dapat dipungkiri bahwa ini akan bersamaan dengan masa pencarian masa depan kita. Masa depan yang aku maksud bukan hanya dari segi finansial (pekerjaan), tapi juga dari segi pendamping hidup. Makanya, selain kami mengutamakan pendidikan, kami juga harus mulai untuk memikirkan kehidupan masa depan keluarga. Sehingga, kalau ada mahasiswa menjelang akhir seperti aku ini yang menyinggung tentang lelaki dan perempuan ideal untuk calon imam dan makmum, jangan heran! maklumi saja, ini sudah waktunya. Hehe

Lanjuut, suatu pagi aku melihat isi snapgram teman yang sedang mengucapkan selamat tinggal dan pesan untuk selalu menghubunginya  kepada pacarnya yang sedang dinas di luar kota, maklum pacarnya ini seorang TNI AD. Iseng-iseng saya balas snapgramnya “Ayo lah ndang disegerakan, jodoh sudah didepan mata tuh” ucapku. Selanjutnya, kami pun terlibat pembicaraan yang tak jauh-jauh seputar jodoh, hehe. Pembicaraan yang membuat mataku terbuka ketika ia bilang “Jangan seperti itu, kita tidak akan tau kapan datangnya jodoh”. Memang, kata-kata ini terlihat sederhana, namun jika kita cermati maknanya sangat dalam. 

Kita tidak akan tau kapan datangnya jodoh. Cermati baik-baik kalimat ini. Seorang pacar tidak menjamin bahwa ia jodoh kita dimasa mendatang. Memang banyak yang melalui proses pacaran bertahun-tahun dan jadi melangkah ke perlaminan, tapi banyak pula yang pacaran sudah bertahun-tahun tidak jadi melangkah ke perlaminan bersama pacar. Malah bersama orang lain yang kita sendiri tak pernah membayangkan sebelumnya. Kalau istilah kerennya sekarang menjaga jodoh orang. wkwk. 

Istilah menjaga jodoh orang ini mulai populer sejak kisah cinta Keenan-Raisa-Hamish. Kisah mereka viral karena mereka public figure yang banyak dieluh-eluhkan. Yups, Keenan-Raisa sudah berpacaran selama 5 tahun. Putus dari Keenan, Raisa dekat dengan Hamish selama beberapa bulan dan berlanjut ke pelaminan bersama Hamish. Tentu istilah menjaga jodoh orang ini layak disematkan dalam 3 orang ini. Keenan yang menjaga Raisa selama 5 tahun, dan ternyata Hamish lah jodohnya.

Intinya adalah kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, tapi hasil akhirnya Allah lah yang menentukan. Untuk mempercepat jodoh kita bisa saja memiliki pacar sekarang, tapi dimasa depan benar bahwa dia jodoh kita siapa yang tau. Bisa jadi kita malah berjodoh dengan seseorang yang kita benci pada awalnya, dan bisa jadi orang yang kita sayangi sebelumnya malah menjadi orang yang kita benci dengan sangat. 

Lalu gimana kalau kita sudah punya pacar? Ya nggak ada salahnya kok kita punya pacar atau tidak. Bagi yang punya, bersyukurlah dan lakukan hal-hal yang positif bersama pacar. Jadikanlah pacarmu seseorang yang membuatmu lebih semangat dalam menjalani hidup, lakukan sesuatu untuk membuat orang-orang disekitarmu bangga dengan prestasi yang kamu peroleh. Bagi yang belum punya, lakukan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia. Jangan terlalu memikirkan mengapa kok belum mempunyai pacar padahal teman-teman yang lain sudah. Bersyukurlah, karena Allah mungkin menjagamu dengan tidak memberikanmu seorang pacar pada saat ini, ketauhilah Allah sayang padamu. Jika kamu berpikiran positif akan rencana Allah, inshaAllah Allah akan memberikan yang terbaik buatmu. 

Berarti mendukung orang pacaran dong? bukannya pacaran sumber maksiat? Pacaran atau tidak merupakan hak setiap orang. Aku mempunyai prinsip untuk berkhusnudzon kepada siapapun. Ketika kita kontra dengan pacaran, apa kita harus menjudge seseorang yang pacaran itu? tidak! meskipun kamu kontra tentang pacaran, kamu harus mendoakan supaya saudara kita yang pacaran itu untuk tidak melakukan perbuatan yang membuat Allah murka. Sebagai seorang muslim bukankah tugas kita untuk mendoakan sesama muslim? semua kembali kepada dirinya masing-masing bagaimana perspektif seseorang. Aku juga tidak bisa memaksakan prinsip ini kepada orang lain karena belum tentu mereka menerima dan belum tentu juga aku sependapat dengan prinsip orang lain.

Demikian beberapa pikiran overthinking yang bersarang di otak saya perihal jodoh. Apapun dan bagaimanapun itu semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah swt, dan teruslah untuk belajar dan bermuhasabah diri. Selamat hari minggu----


Minggu, 15 Oktober 2017

Comments